Pengertian Camera Angle
Camera Angle dalam pengertian karya audio visual berati Sudut
pengambilan gambar yang menekankan tentang posisi kamera berada pada
situasi tertentu dalam membidik obyek. Pernyataan ini menegaskan, bahwa
kamera yang dipakai dalam membidik obyel atau dengan istlah lebih
populer “Obyek dalam View Camera” itu,menggambarkan tentang keberadaan
kamera berada diposisi mana dalam keadaan seperti apa. Pemakaian Camera
Angle ini diharapkan dapat menghasilkan suatu peristiwa atau keadaan
obyek dalam bidikan kamera agar lebih terlihat menarik dan mampu
mengilustrasikan kedinamisan suatu keadaan. Setiap hasil bidikan dalam
pandangan kamera mempunyai kandungan makna dan nilai tertentu dari jenis
angle yang dipakainya. Secara lengkap tentang jenis-jenis Camera Angle
tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
:
1. Top Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera
berada dalam posisi tepat di atas obyek bidikan, atau setara dengan arah
jarum jam menunjuk angka pukul 12.00.
Fungsi teknik ini menjelaskan tentang obyek yang dibidik itu dalam
keadaan tertekan, misalkan untuk pengadegan obyek dalam keadaan sedih,
karena sedang dimarahi oleh ayahnya atau juga seseorang yang lagi
diputusin hubungan dengan ceweknya. Pada keadaan yang ramai dimana obyek
bidikan banyak akan mengisyaratkan suatu obyek terlihat lebih kecil dan
menunjukkan kesan perspektif menurun
Teknik Top Angle hanya digunakan dalam keadaan tertentu, dan hanya
dipakai beberapa kali saja dalam suatu alur cerita. Teknik ini tidak
boleh digunakan terlaluu mendominasi dalam suatu babak alur cerita,
namun hanya sebagai aksen saja agar gambar yang dihasilkan itu lebih
menarik dan terkesan dramatik.
Teknik Top Agle lebih menarik lagi hasilnya jika dipandu dengan
teknik Moving Camera. Misalkan penerapan scene pada pengdegan
kejar-kejaran 3 buah pesawat tempur yang saling naik dan turun dalam
view antar pesawat, ketika pesawat tertembak sayapnya maka pesawat
berputar-putar jatuh ke bawah, saat itulah pengambilan gambar Top Angle
dilakukan dengan view penerbang yang berteriak ketakutan dan bumi secara
bergantian seperti adegan dalam film “TOP GUN” atau “IRON EAGLE”.
Pengadegan yang menunjukkan pemakaian TOP ANGLE dalam beberapa
frame pada saat melakukan shooting dilapangan, baik shhoting di dalam
ruangan (INT) maupun di luar ruangan (EXT)
2. High Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera
berada dalam posisi di atas obyek bidikan, atau setara dengan arah jarum
jam menunjuk angka pukul 12.05. sampai 15.00, atau sudut 5 derajat
samap 90 derajat. Pengertian lain menyamakan dengan istlah Bird View
Angle dengan penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan dengan
posisi kamera berada diatas obyek dengan kemiringan tertentu dan
posisinya bisa berada disekitar atas obyek, bisa kiri, kanan, depan
maupun dibelakang obyek tergantung dari permintaan sutradara yang
mendirectnya.
Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi
tertekan, dan pandangan obyek dalam bidikan kamera terlihat lebih kecil.
Teknik ini juga cocok dipakai untuk menerangkan kesan luas seperti
menceritakan tentang pemandangan alam misalnya suasana pedesaan dengan
kesegaran pepohonannya atau suasana perkotaan yang dipenuhi dengan
gedung-gedung pencangkar langit.
Penggunaan teknik ini juga hanya sebagai aksen saja dalam
menciptakan gambar agar lebih terlihat menarik dan dramatik. Prosentase
penggunaan tak lebih dari 5 % saja dari keseluruhan total pengambilan
gambar dalam suatu cerita.
Teknik ini akan menciptakan gambar lebih baik lagi jika digabungan
dengan Moving Kamera sehingga obyek terlihat lebih hidup dalam
memerankan karakter yang diperankannya. Pemakaian alat untuk
menerapkannyapun bermacam macam bisa mengunakan tangga, naik gedung
bertingkat, pakai jimyjeep atau Camera Cranes dan juga bisa menggunakan
helycopter seperti film-film produksi Amerika yang teknik pengambilan
gambarnya sungguh mengagumkan.
Pengadegan yang menunjukkan pemakaian HIG ANGLE dalam beberapa
frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti suasana perkotaan
dengan gedung-gedung pencangkar langit yang terlihat kecil dan meluas
serta kerumunan penonton yang berjubel mencerminkan detil obyek dalam
bidikan kamera *
3. Eye Level Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera
berada dalam posisi di sejajar dengan pandangan mata, baik berdiri
maupun ketika duduk antara obyek dan kamera dkedudukannya sejajar, atau
setara dengan arah jarum jam menunjuk angka pukul 03.00/15.00 bisa juga
dengan pukul 09.00/21.00. Pengertian lain menyamakan dengan istlah sudut
90 derajat dengan penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan
dengan posisi kamera berada sejajar dengan obyek dalam pandangan mata
secara horizontal, dimana dalam praktek pengambilannya bisa berada di
kiri, kanan, depan maupun dibelakang obyek tergantung dari permintaan
sutradara yang mendirecnya.
Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi
dalam keadaan normal atau kegiatan seperti sehari-hari dilakukan. Teknik
ini juga cocok dipakai untuk menerangkan kegiatan apa saja dalam dari
obyek yang dibidiknya, misalnya orang yang lagi menatap sesuatu, orang
yang lagi melakukan penjamuan makan malam serta kegiatan-kegiatan
sehari-hari lainnya.
Dalam implementasinya, penggunaan teknik ini sangat mendominasi
dalam deretan freme yang mengilustrasikan suatu cerita. Prosentase
penggunaannya lebih dari 80 % dari total durasi yang diceritakan, dengan
berbagai macam bentuk frame yang ditampilkan. Pada kepentingan lain,
penggunaan teknik ini juga bisa dipadukan dengan teknik moving camera
entah dari Top Angle maupun dari Low Angle bergerak secara perlahan
hingga kamera berhenti tepat sejar dengan pandangan mata obyek
Pengadegan yang menunjukkan pemakaian EYE LEVEL ANGLE dalam
beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti suasana
pemandangan perumahan, orang menatap sesuatu serta obrolan dimeja makan
adalah cerminan kegiatn normal dalam kehidupan sehari-hari
4. Low Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera
berada dalam posisi di bawah obyek bidikan, atau setara dengan arah
jarum jam menunjuk angka pukul 15.05. sampai 17.50, atau sudut 95
derajat samap 170 derajat. Pengertian lain memberikan penjelasan bahwa
pengambilan teknik ini dilakukan dengan posisi kamera berada dibawah
obyek dengan sudut kemiringan tertentu ke arah bawah dan posisinya bisa
berada disekitar bawah obyek, bisa kiri, kanan, depan maupun dibelakang
obyek tergantung dari permintaan sutradara yang mendirectnya.
Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi
berkekuatan tinggi terlihat perkasa, dan pandangan obyek dalam bidikan
kamera terlihat perspektif yang meninggi hingga sang obyek seperti
sorang jagoan yang macho. Teknik ini juga cocok dipakai untuk
menerangkan genre film atau sinetron/FTV horor, action dimana
pengaplikasiannya menunjukkan detil obyek secara jelas dengan karakter
yang dibawahnya. misalnya suasana Suasana yang menceritakan 2 orang lagi
bertengkar, dan si tokoh yang menjadi jagoan akan lebih kuat kika
ekspresi kemarahannya diambil secara jelas dengan teknik Low Angle.
Penggunaan teknik ini juga hanya sebagai aksen saja dalam
menciptakan gambar agar lebih terlihat menarik dan dramatik dilhatnya.
Prosentase penggunaan tak lebih dari 5 % saja dari keseluruhan total
pengambilan gambar dalam suatu alur cerita yang difilmkan *
Teknik ini akan menciptakan gambar lebih baik lagi jika digabungan
dengan Moving Camera sehingga obyek terlihat lebih hidup dalam
memerankan karakter yang diperankannya. Pemakaian alat untuk
menerapkannyapun bermacam macam bisa mengunakan tangan sambil jangkok,
atau dengan menggunakan dolly Rell Camera,jimyjeep atau Camera Cranes
seperti film-film produksi Amerika yang teknik pengambilan gambarnya
sungguh mengagumkan.
Pengadegan yang menunjukkan pemakaian LOW ANGLE dalam beberapa
frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti terlihat salah
satu seorang juru kamera yang sedang melakukan pengambilan gambar. Film
Coboy produksi dari Amerika mengilustrasikan dua orang yang siap tempur
dalam suatu arena
5. Frog Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera
berada dalam posisi di sejajar dengan alas dimana posisi kamera berdiri
dalam ketingihan kurang lebih 30 cm. Pengertian lain menyamakan dengan
penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan dengan posisi kamera
berada sejajar alas kamerah misalnya tanah, lantai ataupun meja dimana
obyek yang di bidik berada diatasnya. Dalam praktek pengambilannya
teknik ini bisa berada di kiri, kanan, depan maupun dibelakang obyek
tergantung dari permintaan sutradara yang mendirectnya.
Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi
dalam keadaan lebih jelas. Teknik ini juga cocok dipakai untuk
menerangkan kegiatan apa saja dalam dari obyek yang dibidiknya, misalnya
mobil yang melesat di jalan raya, Tampilan binatang dengan menunjukkan
detil karakter dari obyek yang dibidik agar terlihat dramatis.
Dalam implementasinya, penggunaan teknik ini hanya sebagai
pelengkap untuk mevisualisasikan obyek, sehingga pengambilan gambarnya
hanya sebagian kecil saja dan prosentase penggunaannya tak lebih dari 3 %
dari total durasi yang diceritakan, dengan berbagai macam bentuk frame
yang ditampilkan. Pada kepentingan lain, penggunaan teknik ini juga bisa
dipadukan dengan teknik moving camera entah dengan menggunakan doly
rell camera dengan istilahnya Track In, dari kejauhan menuju kedekatan
obyek.
Pengadegan yang menunjukkan pemakaian FROG ANGLE dalam beberapa
frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti suasana
keceriahan seorang ayah kepada anaknya yang lagi bersenang-senang di
depan halaman rumahnya. Pandangan rendah adegan mobil yang melesat di
jalan raya atau suasana sepi jalan raya serta tampang dari seekor anjing
penjaga rumah yang sedang melet-melet itu *
6. Bottom Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera
berada dalam posisi tepat di bawah obyek bidikan, atau setara dengan
arah jarum jam menunjuk angka pukul 06.00. atau 18.00.
Fungsi teknik ini menjelaskan tentang obyek yang dibidik itu dalam
keadaan diatas, misalkan untuk pengadegan obyek dalam perjalanan di
sebuah hutan disampingnya terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Untuk mendapatkan gambar yang dramatik maka perlu adanya visualisasi
pohon yang dilihat oleh tokoh karena ada kapal terbang yang melewati di
atas kepalanya, sehingga secara otomatis tokoh akan melihat ke atas.
Pada keadaan tertentu bidikan dari teknik ini akan berkesan menimbilkan
perspektif yang dalam dengan suasana meninggi.
Teknik Bottom Angle hanya digunakan dalam keadaan tertentu, dan
hanya dipakai beberapa kali saja dalam suatu alur cerita. Teknik ini
tidak boleh digunakan terlaluu mendominasi dalam suatu babak alur
cerita, namun hanya sebagai aksen saja agar gambar yang dihasilkan itu
lebih menarik dan terkesan dramatik.
Teknik Bottom Agle lebih menarik lagi hasilnya jika dipandu dengan
teknik Moving Camera. Misalkan penerapan scene pada pengadegan
kejar-kejaran 3 buah pesawat tempur yang saling naik dan turun dalam
view antar pesawat,dalam misisnya membom musuh yang terdampar di dalam
hutan, ketika pesawat berada di atas, maka obyek yang juga seorang
tentara itu akan menembakinya secara memberondong dengan memutar
badannya mengikuti pergerakan pesawat tersebut.
Pengadegan yang menunjukkan pemakaian BOTTOM ANGLE dalam beberapa
frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti terlihat salah
satu pesawat tempur yang melesat di atas awan, pepohonan yang terlihat
mengecil membentuk perspektif yang meninggi dalam view orang yang
melihat pohon tersebut di bawahnya, ini semua dapat dilihat pada
film-film hasil produksi dari Amerika yang menggunakan teknologi tinggi
itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar